WARNING: Gue tau Ini jelek, dan mungkin gak akan ada yg Copas. But, mungkin kalian bisa mengerti kalau bikin story itu gak gampang -,- JADI GUE PERINGATIN PLEASEE, LIAT WAJAH GUE YANG UNYU INI xD DAN KASIHANILAH GUE. JANGAN JADI SEORANG COPYCAT ATAU TUKANG COPAS KARYA ORANG LAIN-_________-
Genre : Mystery, Horror, Fantasy and romance
Title : “Next life”
Length : Oneshoot
Pairing : Dakota fanning and Justin bieber
Rated : T, PG -14
Author : Putry Chaerunnisa*Me xD
Author point of view.
Gadis Berambut Blonde itu sekali lagi menyeka keringat yang Mengucur di pelipisnya. Sembari terus- menerus memaju mundurkan kain pel yang sedang di pegangnya. Entah, sudah berapa jam dan sudah sejauh mana ia melakukan ini. Karena yang ia lakukan hanyalah mundur, Mundur dan mundur. Menyusuri semua koridor sekolah menggunakan kain pel yang masih saja setia berada di genggamannya. Lelah ?? tentu saja. Namun harus bagaimana lagi. Ia harus mengerjakan hukuman yang di berikan Mrs. Jonson, kepala sekolahnya untuk dirinya karena telah sangat lancang mengatai Mrs. Ellena, gurus sejarahnya. Sebenarnya saat itu ia benar-benar tak sadar, saat ia mengatai Mrs. Ellena. Sungguh ia benar-benar tak sadar, Karena pada saat itu ia dalam keadaan Bad mood dan tanpa sadar ia berteriak dan mengatai Mrs. Ellena seorang Perawan Tua. Sontak semua murid dalam kelas tertawa, mendengar ucapannya. Sementara Mrs. Ellena ?? ia hanya terdiam dengan wajah Memerah.
“fuihhh” Gadis itu berhenti mengepel sejenak, lantas menegakkan badannya kemudian tangannya terarah mengambil Botol minuman yang sedari tadi tergantung di lehernya. Ia sengaja menggantung botol itu di situ, mengingat ia harus berjalan mundur terus-menurus. Tak mungkin kan ia harus memegang botol itu sambil mengepel ?? Dengan gerakan yang cukup cepat, gadis itu membuka botol Yang sudah terisi Air mineral itu. Lantas meneguknya hingga tegukan terakhir, Merasakan Rasa lega mengaliri kerongkongannya, yang sudah di aliri rasa kering sedari tadi. Sebenarnya ini belum seberapa. Hukumannya bukan ini saja, ia di hukum selama 3 hari dengan cara : Di hari pertama, ia harus mengepel Seluruh Koridor sekolah, Seperti halnya yang lakukan saat ini. Sedangkan hari kedua dan Ketiga ia harus membersihkan serta mengatur Perpustakan sekolah yang berdebu. Gadis itu mendesah, lantas menutup Botol air mineralnya yang sudah kosong itu.
“Ya tuhan, akhirnya aku berhasil. Huffhh.. eh. Tunggu dulu, sekarang jam berapa ?? mengapa Sekolah sudah nampak sepi ??” Mulutnya membulat dengan sempurna begitu ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “WHAAA !!! PANTAS SAJA. SEKARANG SUDAH HAMPIR MALAM!!” teriak gadis itu panik kemudian dengan cepat ia berlari pergi ke Gudang kebersihan, Untuk menyimpan Kain pel serta ember yang ia gunakan tadi.
***************
“Ya ampun dakota. Kau benar-benar menikmati hukuman mu” Desis gadis itu. Menegur dirinya sendiri. Ya, nama Gadis itu Dakota, dakota fanning. Gadis berwajah cantik dengan rambut blonde serta Bola mata keabu-abuannya yang nyaris biru. Namun baru saja Dakota melangkah ingin cepat-cepat keluar dari sekolahnya yang bisa-bisa saja berubah menjadi tempat yang nampak menyeramkan di malam hari, secara tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, begitu ia merasa mendengar sebuah suara isakan tangis. Bulu roma dakota merinding, merasakan Ada hawa dingin yang merambat masuk menyergapi tubuhnya yang masih mengenakan seragam sekolah itu. Dakota menajamkan pendengarannya. Berusaha Memastikan kalau ia hanya salah dengar. Namun salah, ia salah. Dakota meneguk ludahnya dengan susah payah, ia menggeleng. Tak mungkin, di sekolah ini mana mungkin ada hantu ?? Dakota meyakinkan dirinya sendiri, Lampu-lampu koridor mulai menyala satu-persatu secara otomatis. Membuat Dakota makin merasakan hawa Horror di sekitarnya. Tapi ia masih penasaran. Ya dakota masih penasaran dengan suara isakan tangis yang masih saja terdengar itu. Sekali lagi, Dakota menajamkan pendengarannya sembari melangkahkan kakinya mendekati sumber suara. Membuat suara itu makin jelas, dan Dakota pun yakin. Isakan tangis ini bukan berasal dari isakan tangis seorang Gadis atau pun anak kecil, seperti pada film-film Horror. Namun suara itu berasal dari isakan tangis seorang pria.
Dakota menghembuskan nafas lega, merasa ia sudah tak ketakutan serta merinding lagi. Bukan apanya, kau tau kan bagaimana perbedaan isakan tangis dari seorang gadis dan pria ?? Isakan tangis seorang gadis itu cenderung lebih mengarah ke mistis. Namun isakan tangis pria ?? Hmm.. rasanya tak begitu menyeramkan karena jarang sekali di film Horror yang manangis itu Hantu pria.
Dakota mengerjapkan matanya begitu mengetahui Asal suara isakan tangis itu berasal dari ruangan musik atau lebih tepatnya tempat di selenggarakannya pertunjukan-pertunjukan musik, atau lomba piano, yang memang Terletak hampir berdekatan dengan gudang kebersihan. Rasa penasaran telah meliputi Dakota, Membuatnya memberanikan diri untuk berjinjit, Melihat jendela kaca kecil yang berada di pintu bagian atas. Samar-samar dakota melihat sesuatu. Ia melihat orang di dalam sana, Duduk di Kursi terdepan. Lelaki itu Terisak, seraya menatap Grand piano di atas panggung.
Dakota mengernyit heran, rasanya semua anak-anak sudah pulang. Terkecuali dirinya yang memang sedang menjalani hukuman. Dakota sudah tak berjinjit lagi, lantas ia pun menggerakkan Tangan kanannya untuk mendorong pintu Ruangan itu. Membukanya lebar-lebar hingga ia pun masuk ke dalam sana.
Setelah masuk, dakota menutup pintu ruangan itu kemudian melangkahkan kaki jenjangnya, menuju lelaki yang masih setia terisak, Serta Menatap tepat ke arah Grand piano itu. Suara derap langkah terdengar memantul hingga ke sudut-sudut ruangan, Membuat Dakota kembali merasakan Hawa aneh yang menyergapinya.
“Ehhemm” Dakota berdehem, begitu ia sudah sampai di depan Lelaki itu. Well, sebenarnya bukan di hadapannya hanya saja ‘Hampir’ di hadapannya. Dakota mendengus begitu lelaki itu masih saja terus-menerus terisak. Tak memperdulikan kehadiran dakota. “EHHEMMM” Dakota kembali berdehem, dengan suara yang lebih keras. Lelaki itu pun menoleh, menatap mata keabu-abuan dakota. Dakota tersentak, tatapan mata Lelaki itu benar-benar memancarkan keperihan yang benar luar biasa. Memancarkan Kesakitan yang membuat dakota juga bisa merasakan perasaan itu mengaliri Hatinya, memasukinya.
“enggg, kau..kkauu. apa yang kau lakukan di sini ?? Bukankah kau seharusnya sudah pulang ??” Ucap dakota pada akhirnya, walaupun sedikit tergagap. Lelaki itu terlihat mengambil nafas, kemudian menghembuskannya secara perlahan “Aku sedang menyesali apa yang tlah ku perbuat” Jelas lelaki itu, Lelaki yang masih memakai seragam sekolah seperti Dakota. Hanya saja rasanya Dakota tak pernah melihat anak lelaki ini sebelumnya.
“Menyesali apa yang kau perbuat ??” Dakota mengerutkan keningnya, sembari ikut duduk di kursi yang berada tepat di samping anak lelaki itu. Anak lelaki itu hanya mengangguk, kemudian beralih menatap Kosong ke arah Grand Piano itu lagi. “Tapi, tak harus di sini juga kan ? bukankah kau bisa mencari tempat yang lebih bagus dari pada di sini, Di ruangan ini. Apa lagi sekarang sudah hampir gelap”
“Tak bisa, tempat ini merupakan tempat yang pas untuk menyesali perbuatan ku sendiri. Menyesali perbuatan Terbodoh yang pernah ku lakukan” Balas lelaki itu dengan cepat dan telak. Membuat dakota kehabisan kata-kata. Namun sedetik kemudian dakota sudah tau apa harus ia katakan.
“Memang, sebodoh apa perbuatan itu ??” Tanya dakota, lelaki itu mengalihkan tatapannya pada gadis berambut Blonde berbola mata indah di sampingnya. Membuat dakota meneguk Ludahnya dengan susah payah, begitu melihat bola mata anak lelaki itu dari dekat. Ternyata bola matanya benar-benar indah. “Aku..aku telah membunuh kekasih ku” DEGGG.. Mata dakota membulat sempurna, Jantung serasa ingin terlepas. Jangan-jangan lelaki ini seorang pembunuh Batin dakota.
“Sssttt, tenang. Aku bukan pembunuh seperti yang ada di dalam pikiran mu” Ucap Pria itu, seakan mampu membaca sekelebat pemikiran buruk tentang dirinya dalam otak dakota. “Lantas apa ??” Dakota berucap, dengan nada Gemetar yang kentara. Lelaki itu menarik senyum tipis.
“Aku membunuhnya secara tak sengaja. Pada saat itu kami bertengkar hebat, Karena aku mengiranya berselingkuh dengan sahabat ku sendiri. Hatiku perih, hatiku sakit. Hingga akhirnya sahabat ku itu datang ke rumah ku dan menjelaskan semuanya. Aku pun dengan cepat pergi ke rumah kekasih ku itu untuk meminta maaf namun nyatanya ia tak ada di rumah. Ternyata, ia ada di dekolah ini, di ruangan ini. Saat aku Sudah menginjakkan kaki ku di sini, Hati ku lebih Perih dari pada yang sebelumnya. Hati ku serasa Menjerit kesakitan dari pada yang sebelumnya. Ak..akku melihat kekasih ku Dalam ke adaan tak bernyawa lagi di sana” Jelas lelaki itu menunjuk ke arah Grand piano yang sedari tadi ia pandangi. Lelaki itu kembali terisak, dengan gerakan refleks tangan Dakota terarah mengelus pundak lelaki itu “Ia meninggal di sana, dengan keadaan kepala yang berlumuran darah. Ia meninggalkan sebuah kertas di tangan kirinya, Karena sebelah tangannya lagi, ia gunakan untuk memegang pistol yang ia gunakan untuk bunuh diri. Di kertas itu tertulis, ia Bunuh diri karena aku telah membencinya, ia tak bisa hidup tanpa ku. Ia tak bisa hidup dengan segala tuduhan palsu yang telah kutuduhkan untuknya” Lanjut lelaki itu, menangis di pundak Dakota. Terlihat aneh memang, namun bagaimana lagi ?? nyatanya itulah yang sedang terjadi sekarang.
***************
Hari ini Dakota kembali harus menjalani hukumannya. Hukumannya untuk membersihkan perpustakaan. Dengan langkah tak bersemangat, Dakota Berjalan menuju perpustakaan. Oh, Ia benci tempat itu. Tempat yang penuh dengan buku-buku Berdebu serta Rak-rak buku yang Menjulang tinggi. Bahkan, setelah bertahun-tahun Dakota bersekolah di sekolah ini, Ia tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sana.
Suara Derap langkah Dakota terdengar di sepanjang Lorong koridor yang sepi, memang belum waktunya pulang. Namun rasanya Dakota ingin cepat-cepat menyelesaikan Hukumannya untuk hari ini. Tak seperti kemarin, ia harus mengerjakan hukumannya hingga malam hampir tiba. Membuatnya berhasil bertemu Lelaki aneh di Ruangan Music yang bernama Drew. Ya. Namanya Drew, Lelaki yang mencurahkan segala isi hatinya pada Dakota kemarin. Well, Drew cukup tampan. Dengan bola mata Hazel serta rambut Coklat madunya. Namun sayang sekali, nampaknya ia begitu mencintai kekasihnya yang katanya bunuh diri di Grand piano itu. Tapi rasanya dakota tak pernah mendengar ada kabar orang bunuh diri di sana, Benar-benar aneh.
Dakota sudah sampai di perpustakaan, tangannya tergerak mendorong pintu perpustakaan yang cukup besar itu kemudian masuk. Memperlihatkan isinya yang benar-benar penuh dengan buku. “Ya tuhan, aku harus mulai dari mana ??” Dengus Dakota.
“Kau pasti Dakota fanning ??” Suara seseorang masuk ke dalam pendengaran Dakota, Ia cukup terkejut. Namun setelah melihat siapa yang berbicara, ia tak terkejut lagi. Ia Mrs. Sandra Wanita bertubuh gemuk, penjaga perpustakaan. Dakota mengangguk samar, setelah beberapa detik tadi cukup terkejut dengan Kemunculan Mrs. Sandra yang tiba-tiba.
“Baiklah, kau bisa memulai hukuman mu di bagian rak sejarah terlebih dahulu. Ingat, kau harus mengatur buku itu sesuai abjad. Dan jangan lupa untuk membersihkan Rak bukunya” Jelas Mrs. Sandra. Dakota mengangguk lagi, kemudian Berjalan menuju tempat Di mana buku-buku sejarah berada.
****************
Akhirnya, Dakota berhasil mengerjakan hukumannya hingga sore hari. Benar-benar butuh pengorbanan untuk membersihkan,merapikan, serta mengatur buku-buku dengan jumlah halaman yang tak sedikit itu. Dakota meletakkan buku terakhir di raknya sebelum ia beranjak meninggalkan perpustakan, namun baru saja ia mengambil tasnya yang terletak di atas meja baca, ada satu buku Sejarah yang jatuh dari raknya. Menimbulkan bunyi yang cukup besar. Dakota tak jadi mengambil tasnya. Lantas, ia pun berjalan. Beringsut mengambil buku yang tergeletak dengan keadaan terbuka di dinginnya lantai perpustakaan.
Dakota mengambil buku itu, Lantas bangkit dan membolak-balik buku itu. Dakota Merasa tertarik membaca buku itu setelah ia membaca Huruf-Huruf Besar yang tercetak pada sampul Buku itu. Membaca sebentar tak akan memakan waktu yang lama bukan ?? Lagi pula, waktu masih menunjukkan pukul 3 sore, Bisa di pastikan ia hanya membaca sekitar 30 menit atau kurang mungkin.
Yang membuat Dakota tertarik membaca buku itu adalah makna dari judul buku tersebut. Well, maknanya juga tak terlalu berarti. Karena buku itu nampaknya berisi tentang kejadian-kejadian Heboh yang pernah terjadi di sekolah ini. Namun Entahlah, ia juga memiliki alasan lain untuk membaca buku itu, karena Dewi batinnya seolah-olah berteriak menyerukan namanya agar membaca buku yang sudah berada di hadapannya itu.
Dakota telah duduk di salah satu kursi dan meja baca. Ia pun mulai membuka buku itu, membuka lembar pertama kemudian membacanya. Dakota terus menerus membuka lembar demi lembar selanjutnya. Hingga ada satu kisah yang membuat darahnya serasa berdesir. Dakota sekali lagi membaca judul Bab yang tertera di lembaran itu. Dakota menggelengkan kepalanya, tidak. Ini Tidak mungkin !!!
“Drew and Hanna Love story”
Dakota membaca Judul Bab itu sekali lagi, namun ia tak salah liat. Judul Bab ini benar, penglihatannya tak salah. Dengan cepat dakota membuka Lembar Bab itu. Membaca kata demi kata yang teruntai di sana. Memahami, segala tulisan yang tercetak di buku itu. Mata dakota memanas, Buliran bening jatuh dari matanya. Tak salah lagi, kisah ini. Kisah ini menceritakan kisah cinta Drew, lelaki yang ia temui di Ruang music kemarin.
Dakota mendongak, mendapati hari sudah hampir gelap sekarang, sama seperti kemarin. Tapi Dakota tak peduli. Dengan cepat ia menutup buku itu lalu mengambil tasnya. Lantas bangkit dan berlari Keluar dari perpustakaan. Air matanya mengucur dengan keras, entah mengapa Hatinya terasa sakit begitu mengetahui yang sebenarnya. Dengan air mata yang terus-menerus mengalir Dakota terus berlari, melewati Koridor-Koridor Panjang Sekolahnya sampai akhirnya ia telah sampai di tempat yang ia tuju, Ruang music.
Gadis berambut blonde itu mendorong pintu ruang music Lantas kembali berlari menuju kursi barisan terdepan. Dakota meneguk ludahnya, lalu menyeka air matanya yang menggenang di pelupuk matanya begitu melihat Drew di sana. Ia tak lagi menangis, ia nampak lebih baik dari sebelumnya.
“Dasar Bodoh !!” Dakota berteriak, penuh penekanan. Drew yang mendengar itu menolehkan kepalanya hingga matanya di pertemukan dengan mata Dakota yang menatapnya Tajam. “Kau sudah Meninggal kan ?! Lantas mengapa kau tak mencoba untuk Bertelepati Dengan Hanna. Kekasih mu yang juga telah meninggal” Lanjut dakota lagi. Drew mengernyit kan dahinya “Dari mana kau tau nama kekasih ku itu hanna ?? apakah aku telah mengatakan itu pada mu kemarin ??” Dakota menggelengkan kepalanya, tangan kanannya terangkat tinggi-tinggi memperlihatkan buku yang ia temukan di perpustakaan tadi.
“Tidak, aku mengetahuinya dari buku ini. Kau tau, seharusnya kau sudah berbahagia bersama hanna. Tapi karena kau telah di butakan oleh kesedihan akhirnya kau tak memilki cara berfikir yang panjang. Sekarang, apa lagi yang kau tunggu ?? Cobalah bertelepati dengan Hanna” Ucap dakota lagi, kali ini ia sudah berdiri tepat di hadapan Drew, Mentap bola mata indah lelaki itu.
“Bagaimana bisa ?? mana mungkin itu terjadi ??” Desis Drew bangit dari posisinya tadi. Dakota tersenyum “Tentu saja bisa, cobalah. Bukankah kalian sudah berada di alam yang sama ??”
Drew tersenyum, lantas ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke belakang panggung. Hingga akhirnya ia sudah berada di atas panggung, terduduk di kursi Grand piano itu. Drew terlihat memejamkan matanya, Berusaha berkonsentrasi.Sementara Dakota ia hanya menyaksikan yang di lakukan Drew dari jarak terdekat dengan panggung. Tak lama kemudian seberkas cahaya muncul di samping Grand piano itu. Cukup menyilaukan, Dakota mencoba menghalangi cahaya itu dengan salah satu lengannya. Hingga perlahan-lahan cahaya itu memudar.
Menampakkan gadis cantik, Dengan pakaian serba putih. Wajahnya yang cantik terlihat bercahaya. Rambutnya yang juga Blonde terurai indah. Dakota tercekat, nafasnya seketika terhenti begitu melihat Gadis di hadapannya itu. Dia....Diaa begitu mirip dengan Dakota, Sangat persis.
“Hanna” Desis seseorang, di belakang Gadis yang ternyata hanna itu. Hanna Membalikkan tubuhnya, Dan mendapati drew yang sudah bangkit dari duduknya. Sedetik kemudian mereka berpelukan, melepaskan Kerinduan mereka yang mereka pendam selama 80 tahun lamanya. Dakota melongo, masih tak percaya jika gadis yang mirip dengannya itu adalah hanna. Kekasih Drew.
“Dakota” suara lembut masuk ke dalam Pendengarannya membuat dakota terbebas dari kutukan melongo yang sempat menghinggapinya tadi. Dakota terkejut, begitu melihat Hanna dan Drew sudah ada di hadapannya dengan senyum yang mengembang serta tangan yang saling bertautan.
“Terima kasih” Desis hanna. “Aku tau kau bingung, Kenalkan aku Hanna. Hanna Dakota fanning” Lanjut Hanna, memperkenalkan diri. Sungguh, sebenarnya Dakota masih tak mengerti, makin tak mengerti malah. Namun, ia mencoba tersenyum dan mengangguk.
“Sementara aku, namaku Justin drew bieber. Namun biasanya kau memanggil ku Drew” kali ini Drew yang berucap. Memperkenalkan dirinya secara lengkap. Dakota hanya tersenyum . Hanna menggenggam tangan dakota dengan kedua tangannya, memberikan sesuatu pada Dakota. “Sekali lagi, terima kasih atas bantuan mu, yang telah membantu Drew dan aku agar bisa bertemu lagi. Simpan benda ini, ini akan membantu mu menemukan cinta sejati mu. Semoga, kisah cinta mu tak se-miris kisah cinta kami” Ucap Hanna, lalu akhirnya. Mereka menghilang, Hanna dan Drew menghilang.
*******************
“Dakota !!”
“Ishh, dasar gadis malas. DAKOTAAAAA !!!”
Dakota langsung terbangun lalu mengerjapkan matanya. “Hah !? ada apa Lily ??” Desis Dakota Dengan suara serak yang kentara, suara Khas orang yang baru-baru saja bangun tidur. Orang yang di panggil Lily itu memutar bola matanya. “Kau lupa ?? Seharusnya kau sudah menjalani hukuman pertama mu sekarang. Kau tau ?? Mengepel seluruh koridor sekolah” Ucap lily, Dakota melotot “APPPAAA !!?? JADI SEMUA ITU MIMPI !!!??” Teriak Dakota tepat di depan wajah lily, Lily mendengus “Aku tak perduli dengan apa yang kau mimpikan. Tapi, kau tau. Kau sudah tertidur di dalam kelas ini selama 2 jam setelah Bel pulang di bunyikan”
“Oh ya tuhan” Desis dakota lagi, membenamkan wajahnya di kedua tangannya.
********************
Dakota point of view.
Sial. Sungguh sial. Bagaimana mungkin semua itu hanya mimpi ? Bagaimana mungkin jika Drew serta hanna hanya mimpi ??. Ughhh.. dan bagaimana mungkin aku harus mengulangi semua hukuman ku dari awal ??. Aku benar-benar mengutuk semua ini. Setelah semua yang ku alami, dari awal di saat aku menemukan Drew atau yang memiliki nama lengkap Justin Drew Bieber sedang menangis terisak. Hingga akhirnya aku berhasil mempersatukan cinta Drew dengan Hanna yang ternyata memiliki nama Hanna Dakota Fanning. Dakota fanning, bukankah itu nama ku ??. Bahkan sampai sekarang aku masih tak mengerti, mengapa semua ini terjadi pada ku. Apakah karena aku kurang suka pergi Ke gereja di hari minggu ??
Ya. Kau tau, aku sedang mengepel sekarang. Lagi, menyusuri semua koridor ini sendirian. Well, sebenarnya tak sendirian karena ada Kain pel serta ember yang menemaniku. Aku melihat jam di pergelangan tangan ku. Ternyata sudah hampir malam, dengan langkah malas aku berjalan mengambil ember. Lalu melangkah menuju Gudang Kebersihan. Lampu-lampu sudah menyala dengan sendirinya, Membuat ku merasa merinding. Tapi hanya sedikit.
Dengan cepat aku memasukkan ember serta kain pel itu ke dalam Gudang kebersihan. Lalu aku menutup pintu gudang kebersihan dan mulai berjalan untuk pulang. Namun aku menghentikan langkah ku begitu mendengar suara dari ruang music. Tidak. Itu bukan suara isakan tangis lagi. Melainkan yang kudengar kali ini adalah suara Dentingan piano yang mengalun indah. Aku terdiam sebentar, pikiran ku melayang kemana-mana. Maksud ku siapa yang memainkan piano di ruang music itu. Bukankah hari sudah hampir malam ?? apakah itu drew ?? Oh. Tidak mungkin, Drew hanya sebatas mimpi. hanya Mimpi.
Karena penasaran, aku memutuskan untuk Masuk ke dalam Ruangan music itu. Setelah aku masuk aku langsung menutup pintu Ruangan music. Kemudian berjalan menuju orang yang tengah Memainkan Grand piano, yang selalu drew tatap di dalam mimpi ku. Aku melangkah dengan jantung yang berdegup kencang, Berharap kalau itu hanya Murid yang memang sengaja tinggal untuk Latihan piano atau semacamnya. Aku meneguk ludah ku begitu melihat orang itu serupa dengan Drew mereka benar-benar mirip. Apakah itu benar-benar Drew ?? Tapi Rambut Drew tidak spike.
“Drew” panggil ku mencoba memastikan dia itu drew atau bukan. Orang itu menoleh, menatap mataku. Oh, rasanya ia bukan Drew karena Drew memiliki tatapan yang memancarkan kepedihan jika kita menatapnya, Seperti di dalam mimpi ku. Orang itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan hingga ujung panggung lalu melompat turun hingga sekarang ia sudah berada di hadapan ku.
“Drew ??” Ia bertanya balik, aku menganggukkan kepala ku. “Kau Drew bukan ?? Justin Drew Bieber ??” Ucap ku, orang itu tersenyum “ya, itu nama ku. Tapi tanpa Drew, hanya justin bieber” Jelasnya.
“Kau juga memimpikan mereka hm ??” Lanjutnya, aku mengernyit “Siapa ?? Hanna dan drew maksud mu ??” Tanya ku. Kali ini ia yang mengangguk. Lalu ia terlihat naik ke atas panggung itu lagi dan ia mengulurkan tangannya pada ku. Menyuruhku untuk ikut naik ke atas panggung. Aku menyambut uluran tangannya dan ikut naik ke atas panggung.
“Apa yang mereka berikan pada mu ??” Tanya justin, aku menggelengkan kepala ku. Memang mereka memberikanku apa ??. Sedetik kemudian aku ingat, Hanna memberikan sesuatu pada ku. Dengan cepat aku merogoh saku seragam ku. Dan aku menemukan sesuatu di sana, aku menemukan foto yang terpotong. Dan itu adalah foto Hanna, atau lebih tepatnya foto orang yang mirip dengan ku.
“Ini ??” Aku memperlihatkan itu pada Justin, ia tersenyum sangat lebar. Kemudian memperlihatkan ku sesuatu juga. Sebuah foto, dan foto itu adalah foto Drew yang terpotong. Justin mengambil foto hanna yang ku pegang, kemudian menyatukan foto itu dengan foto miliknya. Hingga Foto itu tersambung kembali, menjadi Utuh. Whoaa itu sangat menakjubkan, mana mungkin Foto itu bisa bersatu ??.
“Next life” desis Justin, mendongak menatap ku.
“Maksud mu ??”
“Next life, tulisan di foto ini” Jelas justin menunjuk bagian foto itu, yeah. Memang ada tulisan di sana. Justin melangkah makin mendekati ku.
“Kau tau, setiap hari aku selalu memperhatikan mu” ucapnya, Aku merasakan tangannya menggenggam tangan ku. “Kau memang tak mengenali ku, karena aku berada satu kelas di atas mu. Tapi asal kau tau, Aku selalu memperhatikan mu, Memikirkan mu dan mengkhawatirkan mu. Bahkan hingga saat ini, di saat kau harus menjalankan hukuman. Aku bersedia menunggu mu hingga kau menyelesaikan hukuman mu” Lanjutnya lagi, dengan Seuntai kata yang begitu puitis. Yang mampu menyentuh hati ku.
Maksud ku, aku tak menyangka kalau selama ini ada orang yang begitu memperhatikan ku, Tangannya yang tak menggenggam tangan ku tergerak memegang dagu ku. Memaksa ku untuk menatap bola mata indahnya yang seakan memiliki Lelehan Emas di sana. “Dakota, aku tau kau baru mengenal ku. Tapi, aku tak ingin berbasa-basi. Aku tak ingin menunda-nunda lagi. Jadi, Dakota fanning maukah kau menjadi kekasih ku ?? Ku mohon” Lagi, justin berucap lagi Dengan nada memohon yang kentara. Tatapannya pada ku memancarkan sebuah Cinta yang telah lama ia kubur. Jujur, aku tak pernah menyangka justin akan Mengucapkan sebuah kata yang tak pernah ku duga sebelumnya. Aku meneguk ludah ku gugup. Aku tak bisa berkata apa-apa.
Justin tertunduk lesu “Aku tau, kau pasti tak mau”. Oh ya tuhan aku makin merasa bersalah. Apa yang harus aku lakukan ?? Tiba-tiba aku teringat akan Kata-kata hanna di dalam mimpi ku. Ia mengatakan kalau benda yang ia berikan pada ku, alias foto itu dapat mengantarkan ku pada cinta sejati ku. Apakah maksudnya itu justin ??.
“Justin” aku memanggil namanya, membuatnya mendongak kembali. “Aku tak pernah menyangka kalau selama ini ada orang yang begitu memperhatikan ku, Aku menghargai semua perhatian mu pada ku selama ini walaupun aku tak pernah menyadarinya. Tapi maaf aku tak bisa” Lanjut ku. Justin medesah kecewa, lantas ia tersenyum pada ku. Menunjukkan senyum kepedihannya pada ku.
“Tak apa, aku sudah tau ini akan terjadi” Desisnya, kemudian berbalik membelakangi ku. Mungkin ia akan pergi. Tapi dengan cepat aku melanjutkan kata-kata ku. “Maksud ku, Aku tak bisa mengatakan tidak !!” Aku berteriak, karena memang ia sudah berada cukup jauh dari ku, ia berada di ujung panggung.
Satu detik.. tak ada reaksi darinya.
Dua detik... masih saja tak ada.
Tiga detik.. ya tuhan. ada koslet di bagian otaknya atau bagaimana sih ??
Empat detik, ia pun berbalik dengan senyum lebar di wajahnya. Lantas ia melangkah dengan cepat ke arah ku. Lalu membawa ku masuk ke dalam dekapannya, dekapan hangatnya yang menenangkan. Aku mendongak menatapnya sedang menatap ku. Sedetik kemudian wajahnya makin mendekat, Aku bisa merasakan deru nafasnya menerpa wajah ku sekarang. Hingga akhirnya aku merasakan sesuatu yang lembap di bibir ku. Melumatnya sebentar kemudian ia pun menjauhkan wajahnya dari ku.
“Aku rasa, kita harus berterima kasih pada hanna dan Drew” Bisik justin di telinga ku, aku terkekeh lalu memeluknya lagi. Merasakan kehangatan dan kedamaian di dalam pelukan ini.
Dan sekarang aku mengerti, aku mengerti maksud dari semua ini.
Aku dan justin merupakan kehidupan selanjutnya Dari hanna dan drew. Walaupun mungkin kisah hidup kami berbeda, namun setidaknya aku dan justin harus menghargai usaha Hanna dan Drew, Untuk bisa menyatukan kami, Menyatukan cinta kami. Aku harap semuanya bisa berjalan dengan lancar, Aku harap Kisah ku dan justin tak sepilu kisah Hanna dan Drew. Dan semoga, kalian bahagia di sana Hanna Dakota fanning dan Justin Drew Bieber.
-The End-
--------------------------------------
Hahahahhahaha Gue tau ini gaje -____- tapi ini reall buatan gue*GakAdaYgNanya xD
Title : “Next life”
Dakota menghembuskan nafas lega, merasa ia sudah tak ketakutan serta merinding lagi. Bukan apanya, kau tau kan bagaimana perbedaan isakan tangis dari seorang gadis dan pria ?? Isakan tangis seorang gadis itu cenderung lebih mengarah ke mistis. Namun isakan tangis pria ?? Hmm.. rasanya tak begitu menyeramkan karena jarang sekali di film Horror yang manangis itu Hantu pria.
Dakota mengerjapkan matanya begitu mengetahui Asal suara isakan tangis itu berasal dari ruangan musik atau lebih tepatnya tempat di selenggarakannya pertunjukan-pertunjukan musik, atau lomba piano, yang memang Terletak hampir berdekatan dengan gudang kebersihan. Rasa penasaran telah meliputi Dakota, Membuatnya memberanikan diri untuk berjinjit, Melihat jendela kaca kecil yang berada di pintu bagian atas. Samar-samar dakota melihat sesuatu. Ia melihat orang di dalam sana, Duduk di Kursi terdepan. Lelaki itu Terisak, seraya menatap Grand piano di atas panggung.
Dakota mengernyit heran, rasanya semua anak-anak sudah pulang. Terkecuali dirinya yang memang sedang menjalani hukuman. Dakota sudah tak berjinjit lagi, lantas ia pun menggerakkan Tangan kanannya untuk mendorong pintu Ruangan itu. Membukanya lebar-lebar hingga ia pun masuk ke dalam sana.
Setelah masuk, dakota menutup pintu ruangan itu kemudian melangkahkan kaki jenjangnya, menuju lelaki yang masih setia terisak, Serta Menatap tepat ke arah Grand piano itu. Suara derap langkah terdengar memantul hingga ke sudut-sudut ruangan, Membuat Dakota kembali merasakan Hawa aneh yang menyergapinya.
“Ehhemm” Dakota berdehem, begitu ia sudah sampai di depan Lelaki itu. Well, sebenarnya bukan di hadapannya hanya saja ‘Hampir’ di hadapannya. Dakota mendengus begitu lelaki itu masih saja terus-menerus terisak. Tak memperdulikan kehadiran dakota. “EHHEMMM” Dakota kembali berdehem, dengan suara yang lebih keras. Lelaki itu pun menoleh, menatap mata keabu-abuan dakota. Dakota tersentak, tatapan mata Lelaki itu benar-benar memancarkan keperihan yang benar luar biasa. Memancarkan Kesakitan yang membuat dakota juga bisa merasakan perasaan itu mengaliri Hatinya, memasukinya.
“Menyesali apa yang kau perbuat ??” Dakota mengerutkan keningnya, sembari ikut duduk di kursi yang berada tepat di samping anak lelaki itu. Anak lelaki itu hanya mengangguk, kemudian beralih menatap Kosong ke arah Grand Piano itu lagi. “Tapi, tak harus di sini juga kan ? bukankah kau bisa mencari tempat yang lebih bagus dari pada di sini, Di ruangan ini. Apa lagi sekarang sudah hampir gelap”
“Tak bisa, tempat ini merupakan tempat yang pas untuk menyesali perbuatan ku sendiri. Menyesali perbuatan Terbodoh yang pernah ku lakukan” Balas lelaki itu dengan cepat dan telak. Membuat dakota kehabisan kata-kata. Namun sedetik kemudian dakota sudah tau apa harus ia katakan.
Hari ini Dakota kembali harus menjalani hukumannya. Hukumannya untuk membersihkan perpustakaan. Dengan langkah tak bersemangat, Dakota Berjalan menuju perpustakaan. Oh, Ia benci tempat itu. Tempat yang penuh dengan buku-buku Berdebu serta Rak-rak buku yang Menjulang tinggi. Bahkan, setelah bertahun-tahun Dakota bersekolah di sekolah ini, Ia tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sana.
Dakota sudah sampai di perpustakaan, tangannya tergerak mendorong pintu perpustakaan yang cukup besar itu kemudian masuk. Memperlihatkan isinya yang benar-benar penuh dengan buku. “Ya tuhan, aku harus mulai dari mana ??” Dengus Dakota.
“Baiklah, kau bisa memulai hukuman mu di bagian rak sejarah terlebih dahulu. Ingat, kau harus mengatur buku itu sesuai abjad. Dan jangan lupa untuk membersihkan Rak bukunya” Jelas Mrs. Sandra. Dakota mengangguk lagi, kemudian Berjalan menuju tempat Di mana buku-buku sejarah berada.
Dakota telah duduk di salah satu kursi dan meja baca. Ia pun mulai membuka buku itu, membuka lembar pertama kemudian membacanya. Dakota terus menerus membuka lembar demi lembar selanjutnya. Hingga ada satu kisah yang membuat darahnya serasa berdesir. Dakota sekali lagi membaca judul Bab yang tertera di lembaran itu. Dakota menggelengkan kepalanya, tidak. Ini Tidak mungkin !!!
Dakota mendongak, mendapati hari sudah hampir gelap sekarang, sama seperti kemarin. Tapi Dakota tak peduli. Dengan cepat ia menutup buku itu lalu mengambil tasnya. Lantas bangkit dan berlari Keluar dari perpustakaan. Air matanya mengucur dengan keras, entah mengapa Hatinya terasa sakit begitu mengetahui yang sebenarnya. Dengan air mata yang terus-menerus mengalir Dakota terus berlari, melewati Koridor-Koridor Panjang Sekolahnya sampai akhirnya ia telah sampai di tempat yang ia tuju, Ruang music.
Gadis berambut blonde itu mendorong pintu ruang music Lantas kembali berlari menuju kursi barisan terdepan. Dakota meneguk ludahnya, lalu menyeka air matanya yang menggenang di pelupuk matanya begitu melihat Drew di sana. Ia tak lagi menangis, ia nampak lebih baik dari sebelumnya.
Drew tersenyum, lantas ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke belakang panggung. Hingga akhirnya ia sudah berada di atas panggung, terduduk di kursi Grand piano itu. Drew terlihat memejamkan matanya, Berusaha berkonsentrasi.Sementara Dakota ia hanya menyaksikan yang di lakukan Drew dari jarak terdekat dengan panggung. Tak lama kemudian seberkas cahaya muncul di samping Grand piano itu. Cukup menyilaukan, Dakota mencoba menghalangi cahaya itu dengan salah satu lengannya. Hingga perlahan-lahan cahaya itu memudar.
Menampakkan gadis cantik, Dengan pakaian serba putih. Wajahnya yang cantik terlihat bercahaya. Rambutnya yang juga Blonde terurai indah. Dakota tercekat, nafasnya seketika terhenti begitu melihat Gadis di hadapannya itu. Dia....Diaa begitu mirip dengan Dakota, Sangat persis.
“Dakota !!”
“Ishh, dasar gadis malas. DAKOTAAAAA !!!”
Dakota langsung terbangun lalu mengerjapkan matanya. “Hah !? ada apa Lily ??” Desis Dakota Dengan suara serak yang kentara, suara Khas orang yang baru-baru saja bangun tidur. Orang yang di panggil Lily itu memutar bola matanya. “Kau lupa ?? Seharusnya kau sudah menjalani hukuman pertama mu sekarang. Kau tau ?? Mengepel seluruh koridor sekolah” Ucap lily, Dakota melotot “APPPAAA !!?? JADI SEMUA ITU MIMPI !!!??” Teriak Dakota tepat di depan wajah lily, Lily mendengus “Aku tak perduli dengan apa yang kau mimpikan. Tapi, kau tau. Kau sudah tertidur di dalam kelas ini selama 2 jam setelah Bel pulang di bunyikan”
“Oh ya tuhan” Desis dakota lagi, membenamkan wajahnya di kedua tangannya.
Ya. Kau tau, aku sedang mengepel sekarang. Lagi, menyusuri semua koridor ini sendirian. Well, sebenarnya tak sendirian karena ada Kain pel serta ember yang menemaniku. Aku melihat jam di pergelangan tangan ku. Ternyata sudah hampir malam, dengan langkah malas aku berjalan mengambil ember. Lalu melangkah menuju Gudang Kebersihan. Lampu-lampu sudah menyala dengan sendirinya, Membuat ku merasa merinding. Tapi hanya sedikit.
Dengan cepat aku memasukkan ember serta kain pel itu ke dalam Gudang kebersihan. Lalu aku menutup pintu gudang kebersihan dan mulai berjalan untuk pulang. Namun aku menghentikan langkah ku begitu mendengar suara dari ruang music. Tidak. Itu bukan suara isakan tangis lagi. Melainkan yang kudengar kali ini adalah suara Dentingan piano yang mengalun indah. Aku terdiam sebentar, pikiran ku melayang kemana-mana. Maksud ku siapa yang memainkan piano di ruang music itu. Bukankah hari sudah hampir malam ?? apakah itu drew ?? Oh. Tidak mungkin, Drew hanya sebatas mimpi. hanya Mimpi.
Karena penasaran, aku memutuskan untuk Masuk ke dalam Ruangan music itu. Setelah aku masuk aku langsung menutup pintu Ruangan music. Kemudian berjalan menuju orang yang tengah Memainkan Grand piano, yang selalu drew tatap di dalam mimpi ku. Aku melangkah dengan jantung yang berdegup kencang, Berharap kalau itu hanya Murid yang memang sengaja tinggal untuk Latihan piano atau semacamnya. Aku meneguk ludah ku begitu melihat orang itu serupa dengan Drew mereka benar-benar mirip. Apakah itu benar-benar Drew ?? Tapi Rambut Drew tidak spike.
“Kau juga memimpikan mereka hm ??” Lanjutnya, aku mengernyit “Siapa ?? Hanna dan drew maksud mu ??” Tanya ku. Kali ini ia yang mengangguk. Lalu ia terlihat naik ke atas panggung itu lagi dan ia mengulurkan tangannya pada ku. Menyuruhku untuk ikut naik ke atas panggung. Aku menyambut uluran tangannya dan ikut naik ke atas panggung.
“Maksud mu ??”
“Next life, tulisan di foto ini” Jelas justin menunjuk bagian foto itu, yeah. Memang ada tulisan di sana. Justin melangkah makin mendekati ku.
Justin tertunduk lesu “Aku tau, kau pasti tak mau”. Oh ya tuhan aku makin merasa bersalah. Apa yang harus aku lakukan ?? Tiba-tiba aku teringat akan Kata-kata hanna di dalam mimpi ku. Ia mengatakan kalau benda yang ia berikan pada ku, alias foto itu dapat mengantarkan ku pada cinta sejati ku. Apakah maksudnya itu justin ??.
“Tak apa, aku sudah tau ini akan terjadi” Desisnya, kemudian berbalik membelakangi ku. Mungkin ia akan pergi. Tapi dengan cepat aku melanjutkan kata-kata ku. “Maksud ku, Aku tak bisa mengatakan tidak !!” Aku berteriak, karena memang ia sudah berada cukup jauh dari ku, ia berada di ujung panggung.
Dua detik... masih saja tak ada.
Tiga detik.. ya tuhan. ada koslet di bagian otaknya atau bagaimana sih ??
Empat detik, ia pun berbalik dengan senyum lebar di wajahnya. Lantas ia melangkah dengan cepat ke arah ku. Lalu membawa ku masuk ke dalam dekapannya, dekapan hangatnya yang menenangkan. Aku mendongak menatapnya sedang menatap ku. Sedetik kemudian wajahnya makin mendekat, Aku bisa merasakan deru nafasnya menerpa wajah ku sekarang. Hingga akhirnya aku merasakan sesuatu yang lembap di bibir ku. Melumatnya sebentar kemudian ia pun menjauhkan wajahnya dari ku.
Dan sekarang aku mengerti, aku mengerti maksud dari semua ini.
Aku dan justin merupakan kehidupan selanjutnya Dari hanna dan drew. Walaupun mungkin kisah hidup kami berbeda, namun setidaknya aku dan justin harus menghargai usaha Hanna dan Drew, Untuk bisa menyatukan kami, Menyatukan cinta kami. Aku harap semuanya bisa berjalan dengan lancar, Aku harap Kisah ku dan justin tak sepilu kisah Hanna dan Drew. Dan semoga, kalian bahagia di sana Hanna Dakota fanning dan Justin Drew Bieber.
--------------------------------------
Hahahahhahaha Gue tau ini gaje -____- tapi ini reall buatan gue*GakAdaYgNanya xD

Tidak ada komentar:
Posting Komentar